Confidence is The force to be BeautifuL

Sabtu, 07 Januari 2012

Asal Usul Nama Subang



Sumber-sumber yang dapat dijadikan acuan tentang asal usul nama Subang adalah dari ceritera rakyat (folklor) serta tulisan-tulisan sejarah atau ingatan kolektif masyarakat Subang. Ada beberapa versi tentang asal usul nama Subang, namun sampai saat ini belum ada yang bisa dijadikan sebagai data toponimi daerah Subang.
Berdasarkan pada ceritera rakyat yang ada dan berkembang di tengah masyarakat, kata Subang berasal dari nama seorang wanita seperti tersebut dalam Babad Siliwangi, yakni Subanglarang atau Subangkarancang. Hal tersebut dikuatkan dengan adanya ceritera atau kisah yang terdapat dalam Babad Pajajaran. Babad Pajajaran mengisahkan bahwa di daerah Karawang terdapat sebuah pesantren yang diasuh oleh Syeh Datuk Quro, pada waktu itu salah satu santri perempuan yang belajar di pesantren tersebut bernama Subanglarang atau Subangkarancang, yang merupakan putri dari Ki Jamajan Jati. Dengan berjalannya waktu putri Subanglarang dipersunting oleh Raden Pamanahrasa yang bergelar Prabu Siliwangi sebagai raja Pajajaran, dari hasil perkawinan tersebut lahir dua orang anak yang diberi nama Raden Walangsungsang dan Ratu Rarasantang.
Kata Subang juga berasal dari kata Subang yang merupakan nama daerah yang ada di Kuningan. Pada masa beroperasinya perusahaan yang mengelola perkebunan yakni P & T Land yang dipimpin oleh PW. Hofland, yang merupakan orang Belanda penguasa perkebunan karet, kopi, teh, tebu di daerah tersebut. Untuk mengelola perkebunan tersebut diperlukan tenaga kerja yang sangat banyak, maka didatangkan para pekerja dari berbagai daerah antara lain dari daerah Subang Kuningan. Penduduk Subang pada saat itu belum sebanyak saat ini, para pendatang tadi selanjutnya mendirikan sebuah perkampungan atau pemukiman di sekitar pabrik yang kemudian dikenal dengan nama Babakan atau Kampung Subang, sesuai dengan nama asal tempat tinggal mereka.
Versi lain dari ceritera rakyat mengatakan bahwa kata Subang berasal dari kata Suweng. Suweng merupakan istilah untuk menyebut perhiasan yang dipakai wanita di daun telinganya, atau biasa disebut juga dengan kata anting. Sementara itu ada yang berpendapat bahwa kata Subang berasal dari kata Kubang, berdasarkan pada ceritera rakyat dikisahkan bahwa di daerah Subang tepatnya di daerah Rawabadak terdapat kubangan atau rawa tempat mandi badak. Kemungkinan adanya hewan badak di daerah Subang secara ilmiah belum ada bukti artefak yang ditemukan, namun di masa Subang purba hal tersebut mungkin saja terjadi. Sementara itu pendapat tentang kata Suweng dan Kubang mungkin hanyalah kekurangjelasan dalam melafalkan atau mengucapkan kata tersebut.
Subang sebagai nama suatu daerah atau nama tempat dan juga nama sebuah gunung, baru dikenal antara abad ke-17 dan abad ke-18, sebagaimana ditulis oleh De Haan (1912: 296) seperti tersebut berikut ini: Pada tanggal 6 Oktober 1692, Couper (komandan tentara kompeni) berhasil memukul mundur pasukan Surapati, sebanyak 160 orang prajurit pengikut Surapati melarikan diri ke Madura, 50 orang melarikan diri ke Banyumas dan Bagelen, sedangkan pasukan Van Happel dari Imbanegara menuju Dayeuhluhur melintasi Cijolang terus melewati Subang kembali ke Cirebon. Pada bagian lain di halaman 336 De Haan pun menulis: Pada perjanjian tanggal 5 Oktober 1705 antara Mataram dengan Kompeni Belanda, Sunan Kartasura menyerahkan kepada Gubernur Jenderal De Jonge daerah-daerah pesisir pulau Jawa dari barat ke timur pegunungan Dayiloer (Dayeuhluhur) sampai gunung Sumana atau Subang.(Drs. T. Dibyo Harsono, M. Hum.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar